عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ إِنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ كُلَّ
مُسْتَلْحَقٍ اسْتُلْحِقَ بَعْدَ أَبِيهِ الَّذِي يُدْعَى لَهُ ادَّعَاهُ
وَرَثَتُهُ فَقَضَى أَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ يَمْلِكُهَا يَوْمَ
أَصَابَهَا فَقَدْ لَحِقَ بِمَنْ اسْتَلْحَقَهُ وَلَيْسَ لَهُ مِمَّا
قُسِمَ قَبْلَهُ مِنْ الْمِيرَاثِ شَيْءٌ وَمَا أَدْرَكَ مِنْ مِيرَاثٍ
لَمْ يُقْسَمْ فَلَهُ نَصِيبُهُ وَلَا يَلْحَقُ إِذَا كَانَ أَبُوهُ
الَّذِي يُدْعَى لَهُ أَنْكَرَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ
يَمْلِكْهَا أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لَا يَلْحَقُ بِهِ
وَلَا يَرِثُ وَإِنْ كَانَ الَّذِي يُدْعَى لَهُ هُوَ ادَّعَاهُ فَهُوَ
وَلَدُ زِنْيَةٍ مِنْ حُرَّةٍ كَانَ أَوْ أَمَةٍ
2265.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Sesungguhnya Nabi SAW
memutuskan bahwa setiap orang yang meminta ahli waris untuk memasukkan
dirinya ke dalam golongan mereka, setelah kematian bapaknya yang diakui
sebagai nasabnya, maka dia dimasukkan dalam nasabnya jika diakui ahli
warisnya. Beliau memutuskan bahwa setiap orang yang dilahirkan dan budak
wanita yang dimiliki oleh tuannya dan telah disetubuhi, maka dia
dimasukkan dalam ahli waris, dan dia tidak mendapatkan harta warisan
yang telah dibagi, tetapi jika dia mendapatkan harta warisan yang belum
dibagi maka dia memperoleh bagian dari harta warisan itu. Namun dia
tidak dimasukkan dalam golongan ahli waris jika bapaknya yang diakui
sebagai nasabnya mengingkarinya. Jika dia (anak itu dilahirkan) dari
hamba sahaya yang tidak dimilikinya atau dari perempuan merdeka yang
telah dizinahinya, maka dia tidak dinasabkan kepadanya dan tidak
mendapatkan warisan, tetapi jika orang yang diakui sebagai nasabnya itu
mengakui hal itu (perzinahan) maka anak itu adalah anak zina, baik dari
perempuan merdeka atau hamba sahaya. (Hasan)
عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ زَادَ وَهُوَ وَلَدُ
زِنَا لِأَهْلِ أُمِّهِ مَنْ كَانُوا حُرَّةً أَوْ أَمَةً وَذَلِكَ فِيمَا
اسْتُلْحِقَ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ فَمَا اقْتُسِمَ مِنْ مَالٍ قَبْلَ
الْإِسْلَامِ فَقَدْ مَضَى
2266.
Diriwayatkan dari Ibnu Amr... dengan isnad dan makna yang sama dengan
hadits diatas, perawi menambahkan: "Maka anak itu adalah anak zina bagi
keluarga ibunya, baik ibunya berstatus merdeka ataupun budak. Hal itu
yang diberlakukan pada masa permulaan Islam, adapun harta yang telah
dibagi sebelum masa Islam maka itu sudah berlalu. (Hasan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar