Kamis, 05 Maret 2020

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 35. Orang Yang Berhak atas Anak



عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

2276. Dari Abdullah bin Amru: Ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasul, anakku ini dulu keluar dari perutku, susuku sebagai siraman baginya, dan kuda betina ini baginya sebagai barang milik. Ayahnya sekarang telah menthalak serta ingin meminta anak ini dariku." Rasulullah kemudian bersabda kepada sang wanita, "Kamu lebih berhak atas anakmu selama kamu belum menikah. " (Hasan)

أَبَا مَيْمُونَةَ سَلْمَى مَوْلًى مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ رَجُلَ صِدْقٍ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ فَارِسِيَّةٌ مَعَهَا ابْنٌ لَهَا فَادَّعَيَاهُ وَقَدْ طَلَّقَهَا زَوْجُهَا فَقَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَرَطَنَتْ لَهُ بِالْفَارِسِيَّةِ زَوْجِي يُرِيدُ أَنْ يَذْهَبَ بِابْنِي فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اسْتَهِمَا عَلَيْهِ وَرَطَنَ لَهَا بِذَلِكَ فَجَاءَ زَوْجُهَا فَقَالَ مَنْ يُحَاقُّنِي فِي وَلَدِي فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اللَّهُمَّ إِنِّي لَا أَقُولُ هَذَا إِلَّا أَنِّي سَمِعْتُ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا قَاعِدٌ عِنْدَهُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ زَوْجِي يُرِيدُ أَنْ يَذْهَبَ بِابْنِي وَقَدْ سَقَانِي مِنْ بِئْرِ أَبِي عِنَبَةَ وَقَدْ نَفَعَنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَهِمَا عَلَيْهِ فَقَالَ زَوْجُهَا مَنْ يُحَاقُّنِي فِي وَلَدِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُوكَ وَهَذِهِ أُمُّكَ فَخُذْ بِيَدِ أَيِّهِمَا شِئْتَ فَأَخَذَ بِيَدِ أُمِّهِ فَانْطَلَقَتْ بِهِ

2277. Dari Abu Maimunah Sulma —pelayan di kalangan Madinah dan seorang laki-laki yang jujur— berkata: Saat aku duduk bersama Abu Hurairah, ia didatangi seorang wanita Persia bersama anaknya, yang menjadi rebutan antara dia dan suaminya, sedangkan wanita tersebut telah dithalak suaminya. Wanita tersebut lalu bertanya kepada Abu Hurairah —dengan memakai bahasa Persia—, "Hai Abu Hurairah, suamiku ingin pergi bersama anakku." Abu Hurairah menjawab, "Coba kalian berdua, datangkan suamimu." Sesaat kemudian suaminya datang dan berkata, "Siapa yang mengakui lebih berhak dengan anakku?," Abu Hurairah menjawab, "Aku tidak mengatakan seperti itu, hanya saja aku pernah mendengar kisah bahwa ada seorang wanita mendatangi Rasulullah -aku saat itu duduk di dekat Nabi- dan berkata, "Wahai Rasul, suamiku ingin pergi bersama anakku, sementara suamiku telah memberiku siraman dari sumur Abu Inabah, apakah itu berpengaruh?" Rasulullah menjawab, "Coba kalian berdua, datangkan suamimu itu. " Suaminya lalu datang dan berkata, "Siapa yang lebih berhak dariku atas anakku?" Rasulullah bersabda, "Ini adalah bapakmu dan ini adalah ibumu, maka peganglah tangan (salah satu dari mereka) yang kamu inginkan. " Ternyata sang anak memegang tangan ibunya dan akhirnya pergilah anak itu bersama ibunya. (Shahih)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ إِلَى مَكَّةَ فَقَدِمَ بِابْنَةِ حَمْزَةَ فَقَالَ جَعْفَرٌ أَنَا آخُذُهَا أَنَا أَحَقُّ بِهَا ابْنَةُ عَمِّي وَعِنْدِي خَالَتُهَا وَإِنَّمَا الْخَالَةُ أُمٌّ فَقَالَ عَلِيٌّ أَنَا أَحَقُّ بِهَا ابْنَةُ عَمِّي وَعِنْدِي ابْنَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ أَحَقُّ بِهَا فَقَالَ زَيْدٌ أَنَا أَحَقُّ بِهَا أَنَا خَرَجْتُ إِلَيْهَا وَسَافَرْتُ وَقَدِمْتُ بِهَا فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ حَدِيثًا قَالَ وَأَمَّا الْجَارِيَةُ فَأَقْضِي بِهَا لِجَعْفَرٍ تَكُونُ مَعَ خَالَتِهَا وَإِنَّمَا الْخَالَةُ أُمٌّ

2278. Dari Ali, ia berkata: "Zaid bin Haritsah kelnar menuju Makkah bersama anak perempuan Hamzah. Ja'far berkata, "Aku yang berhak mengambilnya karena ia anak perempuan pamanku. Aku mempunyai bibinya, sedangkan bibi statusnya sama dengan ibu." Aku (Ali) kemudian berkata, "Aku yang lebih berhak atasnya, karena itu anak perempuan pamanku. Aku mempunyai anak perempuannya Rasulullah, orang yang lebih berhak atasnya." Zaid berkata, "Aku lebih berhak atasnya, karena aku yang menghampirinya dan pergi bersamanya." Sesaat kemudian Rasulullah keluar dan bersabda, "Aku memutuskan anak ini, bersama Ja'far, sebab ia mempunyai bibinya, maka dia nanti bersama bibinya, bibi statusnya sama dengan ibu." {Shahih)

بِهَذَا الْخَبَرِ وَلَيْسَ بِتَمَامِهِ قَالَ وَقَضَى بِهَا لِجَعْفَرٍ وَقَالَ إِنَّ خَالَتَهَا عِنْدَهُ

2279. Dari Ali —seperti hadits tadi— ia berkata, "Rasulullah memutuskan agar anak tersebut ikut bersama Ja'far. Beliau kemudian bersabda, "Bibinya ada pada Ja'far. " {Shahih)

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ لَمَّا خَرَجْنَا مِنْ مَكَّةَ تَبِعَتْنَا بِنْتُ حَمْزَةَ تُنَادِي يَا عَمُّ يَا عَمُّ فَتَنَاوَلَهَا عَلِيٌّ فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَالَ دُونَكِ بِنْتَ عَمِّكِ فَحَمَلَتْهَا فَقَصَّ الْخَبَرَ قَالَ وَقَالَ جَعْفَرٌ ابْنَةُ عَمِّي وَخَالَتُهَا تَحْتِي فَقَضَى بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَالَتِهَا وَقَالَ الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ

2280. Dari Ali, ia berkata: Ketika aku keluar dari Makkah, aku diikuti anak perempuan Hamzah, ia memanggil, "Hai paman." Aku pun menghampirinya dan memegang tangannya, kemudian berkata, "Kamu mempunyai anak perempuan dari pamanmu," kemudian anak perempuan pamannya membawanya pergi, lalu perawi hadits menceritakan kisahnya. Ja'far berkata, "ini adalah anak perempuan pamanku, bibinya di bawahku," kemudian Rasulullah bersabda kepada bibinya, "Seorang bibi statusnnya sama dengan ibu." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 34. Penisbatan Anak


عَنْ عَائِشَةَ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ابْنِ أَمَةِ زَمْعَةَ فَقَالَ سَعْدٌ أَوْصَانِي أَخِي عُتْبَةُ إِذَا قَدِمْتُ مَكَّةَ أَنْ أَنْظُرَ إِلَى ابْنِ أَمَةِ زَمْعَةَ فَأَقْبِضَهُ فَإِنَّهُ ابْنُهُ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ أَخِي ابْنُ أَمَةِ أَبِي وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي فَرَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِي عَنْهُ يَا سَوْدَةُ زَادَ مُسَدَّدٌ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ هُوَ أَخُوكَ يَا عَبْدُ

2273. Dari Aisyah, ia berkata: Suatu ketika Sa'ad bin Abu Waqqas dan Abd bin Zam'ah bertengkar tentang anak budak Zam'ah. Akhirnya mereka mengadukan permasalahan itu kepada Rasulullah SAW. Sa'ad berkata, "Ketika aku tiba di Makkah, aku diwasiati saudaraku (Utbah) agar melihat anak budak Zam'ah, kemudian harus mengambilnya, sebab ia adalah anaknya." 'Abd bin Zam'ah berkata, "Saudaraku adalah anak dari budak (wanita) ayahku, ia merupakan hasil hubungan dengan ayahku." Rasulullah melihat adanya kemiripan dengan Utbah, lalu beliau bersabda, "Anak adalah menurut hasil persetubuhan, bagi lelaki yang berzina hukumannya batu, buatlah penghalang darinya wahai Saudah "

Dalam satu riwayat ada tambahan, "Dia adalah saudaramu wahai Abd. " (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Hadits ini tidak ada tambahannya, dan hadits tersebut dinilai Mu'alaq oleh Bukhari.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانًا ابْنِي عَاهَرْتُ بِأُمِّهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا دَعْوَةَ فِي الْإِسْلَامِ ذَهَبَ أَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

2274. Dari Abdullah bin Amru bin Ash, ia berkata: Ada seorang lelaki berdiri lalu berkata, "Wahai Rasulullah, fulan adalah anakku. Aku berzina dengan ibunya pada zaman jahiliyah." Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Tidak ada penisbatan pada selain bapaknya dalam Islam. Permasalahan jahiliyah telah hilang, penisbatan anak adalah kepada persetubuhan, dan bagi lelaki yang zina hukumannya batu." {Hasan Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 33. Model Pernikahan Orang Jahiliyah



أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ النِّكَاحَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ فَكَانَ مِنْهَا نِكَاحُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ وَلِيَّتَهُ فَيُصْدِقُهَا ثُمَّ يَنْكِحُهَا وَنِكَاحٌ آخَرُ كَانَ الرَّجُلُ يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتْ مِنْ طَمْثِهَا أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ وَيَعْتَزِلُهَا زَوْجُهَا وَلَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِنْ أَحَبَّ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الْوَلَدِ فَكَانَ هَذَا النِّكَاحُ يُسَمَّى نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ وَنِكَاحٌ آخَرُ يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ دُونَ الْعَشَرَةِ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا فَإِذَا حَمَلَتْ وَوَضَعَتْ وَمَرَّ لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا فَتَقُولُ لَهُمْ قَدْ عَرَفْتُمْ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ وَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلَانُ فَتُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ مِنْهُمْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا وَنِكَاحٌ رَابِعٌ يَجْتَمِعُ النَّاسُ الْكَثِيرُ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ لَا تَمْتَنِعُ مِمَّنْ جَاءَهَا وَهُنَّ الْبَغَايَا كُنَّ يَنْصِبْنَ عَلَى أَبْوَابِهِنَّ رَايَاتٍ يَكُنَّ عَلَمًا لِمَنْ أَرَادَهُنَّ دَخَلَ عَلَيْهِنَّ فَإِذَا حَمَلَتْ فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا جُمِعُوا لَهَا وَدَعَوْا لَهُمْ الْقَافَةَ ثُمَّ أَلْحَقُوا وَلَدَهَا بِالَّذِي يَرَوْنَ فَالْتَاطَهُ وَدُعِيَ ابْنَهُ لَا يَمْتَنِعُ مِنْ ذَلِكَ فَلَمَّا بَعَثَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدَمَ نِكَاحَ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ الْيَوْمَ

2272. Dari Aisyah: Pernikahan zaman jahiliyah ada empat bentuk, yaitu:

  1. Laki-laki menyuruh keluarganya meminang wanita dan akhirnya dinikahkan. Ini adalah pernikahan model sekarang.
  2.  
  3. Laki-laki berkata kepada istrinya yang telah suci dari haid, "Pergilah menuju si fulan dan bersetubuhlah dengannya." Sang suami lalu tidak menyentuh istrinya sampai benar-benar nampak kehamilan sang istri dari si fulan tadi. Ketika telah nampak kehamilannya, bila suami masih suka kepada istrinya, maka ia boleh menggaulinya, itu dilakukan karena senang dengan kelahiran sang anak. Nikah semacam itu dinamakan nikah istibdha' (nikah bersetubuh dengan orang lain).
  4.  
  5. Sekumpulan orang —yang berjumlah kurang dari sepuluh— menyetubuhi seorang wanita, lalu ketika wanita itu sudah hamil dan setelah beberapa malam melahirkan, sang wanita mendatangi mereka. Si wanita lalu berkata, kepada mereka, "Kalian semua telah mengetahui persoalan ini, aku telah melahirkan, ini adalah anakmu hai fulan (si wanita menyebut nama di antara mereka yang ia sukai)." Sang anak kemudian dinisbatkan kepada orang yang namanya disebut.
  6.  
  7. Orang banyak berkumpul, lalu mereka semua menyetubuhi seorang wanita, sang wanita pun tidak menolak orang yang mendatanginya, karena ia termasuk pelacur, yang menancapkan bendera sebagai tanda bahwa ia mempersilakan orang yang berminat kepadanya. Ketika sang wanita hamil dan melahirkan, mereka semua berkumpul di dekat wanita dengan mendatangkan paranormal, kemudian mereka menisbatkan anak menurut pandangan mereka. Orang yang ditunjuk tidak boleh menolak.
  8.  
Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW, beliau memberantas bentuk pernikahan orang-orang jahiliyah, kecuali pernikahan ahli Islam saat ini. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 32. Orang yang Berpendapat agar Dilakukan Pengundian ketika Terjadi Perselisihan dalam Hal Anak


عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَمَنِ فَقَالَ إِنَّ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ أَتَوْا عَلِيًّا يَخْتَصِمُونَ إِلَيْهِ فِي وَلَدٍ وَقَدْ وَقَعُوا عَلَى امْرَأَةٍ فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لِاثْنَيْنِ مِنْهُمَا طِيبَا بِالْوَلَدِ لِهَذَا فَغَلَيَا ثُمَّ قَالَ لِاثْنَيْنِ طِيبَا بِالْوَلَدِ لِهَذَا فَغَلَيَا ثُمَّ قَالَ لِاثْنَيْنِ طِيبَا بِالْوَلَدِ لِهَذَا فَغَلَيَا فَقَالَ أَنْتُمْ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ إِنِّي مُقْرِعٌ بَيْنَكُمْ فَمَنْ قُرِعَ فَلَهُ الْوَلَدُ وَعَلَيْهِ لِصَاحِبَيْهِ ثُلُثَا الدِّيَةِ فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَجَعَلَهُ لِمَنْ قُرِعَ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَضْرَاسُهُ أَوْ نَوَاجِذُهُ

2269. Dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Aku pernah duduk berdekatan dengan Rasulullah SAW, dan tiba-tiba datang seorang laki-laki dari daerah Yaman, ia berkata, "Ada tiga orang dari Yaman mendatangi Ali untuk meminta hukum tentang status anak. Mereka telah menyetubuhi seorang wanita dalam satu persucian. Ali lalu berkata kepada keduanya, "Siapa nanti yang menjadi penanggung jawab anak ini?" Keduanya mengelak. Lalu Ali bertanya kepada dua orang tersebut, "Siapa nanti yang bertanggung jawab anak ini?" Keduanya mengelak. Ali kemudian berkata, "Kalau begitu kalian semua ikut bertanggung jawab atas anak ini. Aku akan melakukan pengundian, dan yang namanya keluar akan bertanggung jawab atas anak ini, sedangkan yang lain membayar dua pertiga diyat." Ali lalu melakukan pengundian. Setelah Rasulullah mendengar kabar itu, beliau tertawa sampai kelihatan beberapa gigi geraham beliau. {Shahih)

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِثَلَاثَةٍ وَهُوَ بِالْيَمَنِ وَقَعُوا عَلَى امْرَأَةٍ فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ فَسَأَلَ اثْنَيْنِ أَتُقِرَّانِ لِهَذَا بِالْوَلَدِ قَالَا لَا حَتَّى سَأَلَهُمْ جَمِيعًا فَجَعَلَ كُلَّمَا سَأَلَ اثْنَيْنِ قَالَا لَا فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالَّذِي صَارَتْ عَلَيْهِ الْقُرْعَةُ وَجَعَلَ عَلَيْهِ ثُلُثَيْ الدِّيَةِ قَالَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ

2270. Dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Ali didatangi tiga orang dari Yaman yang telah menyetubuhi seorang wanita dalam satu persucian, lalu Ali bertanya kepada dua orang diantaranya, "Apakah kalian berdua mengakui anak ini?" Keduanya menjawab, "Tidak." Sampai akhirnya Ali menanyai semuanya. Setiap kali mereka berdua ditanya mereka selalu menjawab tidak. Ali pun melakukan pengundian dan menisbatkan anak kepada orang yang namanya keluar dalam pengundian tersebut, sementara yang lain harus membayar dua pertiga diyat.

Perawi hadits ini berkata: Kejadian itu diberitahukan kepada Nabi, ternyata setelah mendengarnya Nabi tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 31. Al-Qafah


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُسَدَّدٌ وَابْنُ السَّرْحِ يَوْمًا مَسْرُورًا وَقَالَ عُثْمَانُ تُعْرَفُ أَسَارِيرُ وَجْهِهِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ رَأَى زَيْدًا وَأُسَامَةَ قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا بِقَطِيفَةٍ وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ قَالَ أَبُو دَاوُد كَانَ أُسَامَةُ أَسْوَدَ وَكَانَ زَيْدٌ أَبْيَضَ

2267. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Suatu hari Rasulullah SAW menemuiku dengan muka berseri (dalam redaksi lain: terlihat jerat-jerat kebahagiaan pada wajah dan kening beliau, kemudian beliau bersabda, "Wahai Aisyah, apakah kamu tidak tahu bahwa Mujazziz Al Mudliji telah melihat Zaid dan Usamah, keduanya menutupi kepalanya dengan pakaian kumal, sementara kedua kaki mereka kelihatan, Mujazziz kemudian mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian kaki berasal dari sebagian yang lain (maksudnya; keduanya adalah satu keturunan)."

Abu Daud berkomentar, "Usamah berkulit hitam, sedangkan Zaid berkulit putih." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ قَالَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ مَسْرُورًا تَبْرُقُ أَسَارِيرُ وَجْهِهِ

2268. Dari Aisyah, —seperti hadits tersebut— ia berkata: Suatu saat Rasulullah menjumpaiku dengan nampak terpancar jerat-jerat kebahagian di wajah beliau. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

قَالَ أَبُو دَاوُد وَسَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ صَالِحٍ يَقُولُ كَانَ أُسَامَةُ أَسْوَدَ شَدِيدَ السَّوَادِ مِثْلَ الْقَارِ

Abu Daud berkata: "Aku mendengar Ahmad bin Shalih berkata, Usamah berkulit hitam legam seperti batu hitam, sedangkan Zaid berkulit putih seperti kapas." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab TALAK 30. Status Nasab Anak Zina



عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ كُلَّ مُسْتَلْحَقٍ اسْتُلْحِقَ بَعْدَ أَبِيهِ الَّذِي يُدْعَى لَهُ ادَّعَاهُ وَرَثَتُهُ فَقَضَى أَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ يَمْلِكُهَا يَوْمَ أَصَابَهَا فَقَدْ لَحِقَ بِمَنْ اسْتَلْحَقَهُ وَلَيْسَ لَهُ مِمَّا قُسِمَ قَبْلَهُ مِنْ الْمِيرَاثِ شَيْءٌ وَمَا أَدْرَكَ مِنْ مِيرَاثٍ لَمْ يُقْسَمْ فَلَهُ نَصِيبُهُ وَلَا يَلْحَقُ إِذَا كَانَ أَبُوهُ الَّذِي يُدْعَى لَهُ أَنْكَرَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لَا يَلْحَقُ بِهِ وَلَا يَرِثُ وَإِنْ كَانَ الَّذِي يُدْعَى لَهُ هُوَ ادَّعَاهُ فَهُوَ وَلَدُ زِنْيَةٍ مِنْ حُرَّةٍ كَانَ أَوْ أَمَةٍ

2265. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Sesungguhnya Nabi SAW memutuskan bahwa setiap orang yang meminta ahli waris untuk memasukkan dirinya ke dalam golongan mereka, setelah kematian bapaknya yang diakui sebagai nasabnya, maka dia dimasukkan dalam nasabnya jika diakui ahli warisnya. Beliau memutuskan bahwa setiap orang yang dilahirkan dan budak wanita yang dimiliki oleh tuannya dan telah disetubuhi, maka dia dimasukkan dalam ahli waris, dan dia tidak mendapatkan harta warisan yang telah dibagi, tetapi jika dia mendapatkan harta warisan yang belum dibagi maka dia memperoleh bagian dari harta warisan itu. Namun dia tidak dimasukkan dalam golongan ahli waris jika bapaknya yang diakui sebagai nasabnya mengingkarinya. Jika dia (anak itu dilahirkan) dari hamba sahaya yang tidak dimilikinya atau dari perempuan merdeka yang telah dizinahinya, maka dia tidak dinasabkan kepadanya dan tidak mendapatkan warisan, tetapi jika orang yang diakui sebagai nasabnya itu mengakui hal itu (perzinahan) maka anak itu adalah anak zina, baik dari perempuan merdeka atau hamba sahaya. (Hasan)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ زَادَ وَهُوَ وَلَدُ زِنَا لِأَهْلِ أُمِّهِ مَنْ كَانُوا حُرَّةً أَوْ أَمَةً وَذَلِكَ فِيمَا اسْتُلْحِقَ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ فَمَا اقْتُسِمَ مِنْ مَالٍ قَبْلَ الْإِسْلَامِ فَقَدْ مَضَى

2266. Diriwayatkan dari Ibnu Amr... dengan isnad dan makna yang sama dengan hadits diatas, perawi menambahkan: "Maka anak itu adalah anak zina bagi keluarga ibunya, baik ibunya berstatus merdeka ataupun budak. Hal itu yang diberlakukan pada masa permulaan Islam, adapun harta yang telah dibagi sebelum masa Islam maka itu sudah berlalu. (Hasan)

29 xxxx